Flash News
Mail Instagram Pinterest RSS
Mega Menu

Lengayang Pernah Punya Mata Uang Sendiri

Monumen yang merupakan simbol perjuangan sengaja dibangun untuk mengenang semangat perjuangan para perjuang bangsa, begitu juga tugu yang dibangun Kampung Koto Pulai Kambang Timur, Kecamatan Lengayang Pesisir Selatan. Tugu ini memiliki arti dan makna bagi masyarakat Pesisir Selatan. Orang setempat menamakannya, Tugu Pitih Kambang.

Luas lokasi tugu sekitar 8 kali 8 meter. Dari jalan kabupaten, pe­ng­un­jung bisa langsung dapat menyak­sikan tugu bersejarah tersebut. Turun dari kendaraan, ada anak tangga yang harus dilewati untuk dapat mencapai lantai atau piringan yang terbuat dari keramik warna merah tersebut.

Di lokasi 8 kali 8 meter itu berdiri kokoh sebuah tugu yang dibuat puluhan tahun silam oleh peme­rintah. Di sekeliling tugu juga ada pagar pengaman yang sudah tidak aman lagi bagi aset bersejarah ini. Bila diperhatikan dengan seksama, tugu tersebut bisa dibagi menjadi tiga bagian. Bagian kaki, bagian tengah dan bagian atas. Bagian kaki yang terletak di atas pondasi berben”tuk segitiga itu diberi prasasti yang bertuliskan tentang sejarah per­juangan masyarakat Pesisir Selatan Kerinci.

Lantas pada bagian tengah ter­dapat relief berupa mata uang. Uang yang ditampilkan dua jenis, pertama URIPS dan Pitih Kambang dengan pecahan masing masing Rp50, Rp25 dan Rp10.

Relief uang ini menggambarkan tentang jenis uang yang pernah beredar di masa revolusi fisik. Kedua jenis uang itu memiliki rantai dalam membentuk sejarah perjuangan kemerdekaan di Pesisir Selatan Kerinci. Saat kondisi sedang sulit, pada tahun 1948 dan 1949, Le­ngayang pernah mencetak mata uang sendiri. Selanjutnya uang pecahan Rp10 dan Rp5 itu ditarik diperedaran dan berganti dengan URIPS.

Pada bagian atas berdiri patung pejuang. Patung pejuang ini meng­gambarkan semangat juang masya­rakat Pesisir Selatan dalam memper­ta­hankan NKRI. Selain itu, patung tersebut juga menggambarkan bah­wa di Koto Pulai pernah dijadikan sebagai basis pergerakan menentang agresi Belanda.

Tugu itu hanyalah simbol per­juangan masyarakat semata, seka­rang ini adalah sebesar apa makna tugu itu dipahami dan dihargai oleh masyarakat. Apalagi pada peringatan hari pahlawan ke 68 sejauh mana masyarakat tahu dan paham per­juangan para pahlawan tersebut.

Memang tugu merupakan simbol perjuangan ,tetapi keberadaannya sekarang ini hanya sebatas simbol belaka,tidak ada perhatian khusus diberikan kepada tugu itu. Sebut saja tugu pitih kambang ini tugu, yang seyogianya memberikan makna bagi pergerakan kemerdekaan tersebut kini tampak tidak terurus.

Disela sela keramik lantainya, rerumputan tumbuh dengan subur. Keramik yang semula berwarna merah hati itu, kini justeru terlihat hijau dan kehitaman. Hanya ma­syarakat sekitar saja yang hanya rutin membersihkan tugu tersebut, itupun dilakukan ketika melakukan gotongroyong bersama.

Begitu juga tugu Batas Reville yang terletak di Kenagarian Siguntur Ke­camatan Koto  XI Tarusan,tugu itu dibiarkan saja berdiri membisu di tengah tingginya hilalang dan rum­put liar.

Padahal tugu itu terletak di ping­giran jalan Padang-Painan.tetapi para pengendara yang melintasi jalan itu tidak tahu  kalau disitu telah berdiri sebuah tugu yang menjadi bagian  sejarah Indonesia di masa dahulu.

Tugu perlu dijaga, tugu penuh makna itu perlu dipertahankan dari kerusakan. Baik kerusakan dari tangan yang ingin menjahili, atau kerusakan akibat proses alam dan cuaca.Sebab “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya”.

Ketua DPRD Kabupaten Pessel Mardinas N Syair menilai peringatan hari pahlawan diharapkan menjadi momentum pembangkit semangat nasionalisme  dan nilai nilai ke­juangan diri kita selaku anak bangsa.

“Sehingga cita cita kemerdekaan yang tumbuh dalam setiap jiwa dan semangat para pahlawan kita dapat kita wujudkan secara bersama-sama apa­lagi dalam peringatan hari pah­lawan diharapkan sebagai bentuk bagi kita dalam menghargai dan mengenang para pahlawannya,” ujarnya

Sementara, kemarin peringatan hari pahlawan  yang dipusatkan di lapangan Bola Kaki Gor H. Ilias Yakub kemarin, Minggu (10/11) dan ber­langsung hikmat.

Yang dihadiri Kapolres Pessel AKBP Toto Fajar Prasetyo sebagai ispektur Upacara, Bupati Pessel yang diwakili Sekda Erizon, Dandim Letkol Imanuel Pasaribu, Kepala SKPD, kantor,TNI, Polisi, Pol PP, Dis­hub,  Dinas Kesehatan, Damkar dan pela­jar.(*)

Sumber

0 komentar:

Posting Komentar