Luas lokasi tugu sekitar 8 kali 8 meter. Dari jalan kabupaten, pengunjung bisa langsung dapat menyaksikan tugu bersejarah tersebut. Turun dari kendaraan, ada anak tangga yang harus dilewati untuk dapat mencapai lantai atau piringan yang terbuat dari keramik warna merah tersebut.
Di lokasi 8 kali 8 meter itu berdiri kokoh sebuah tugu yang dibuat puluhan tahun silam oleh pemerintah. Di sekeliling tugu juga ada pagar pengaman yang sudah tidak aman lagi bagi aset bersejarah ini. Bila diperhatikan dengan seksama, tugu tersebut bisa dibagi menjadi tiga bagian. Bagian kaki, bagian tengah dan bagian atas. Bagian kaki yang terletak di atas pondasi berben”tuk segitiga itu diberi prasasti yang bertuliskan tentang sejarah perjuangan masyarakat Pesisir Selatan Kerinci.
Lantas pada bagian tengah terdapat relief berupa mata uang. Uang yang ditampilkan dua jenis, pertama URIPS dan Pitih Kambang dengan pecahan masing masing Rp50, Rp25 dan Rp10.
Relief uang ini menggambarkan tentang jenis uang yang pernah beredar di masa revolusi fisik. Kedua jenis uang itu memiliki rantai dalam membentuk sejarah perjuangan kemerdekaan di Pesisir Selatan Kerinci. Saat kondisi sedang sulit, pada tahun 1948 dan 1949, Lengayang pernah mencetak mata uang sendiri. Selanjutnya uang pecahan Rp10 dan Rp5 itu ditarik diperedaran dan berganti dengan URIPS.
Pada bagian atas berdiri patung pejuang. Patung pejuang ini menggambarkan semangat juang masyarakat Pesisir Selatan dalam mempertahankan NKRI. Selain itu, patung tersebut juga menggambarkan bahwa di Koto Pulai pernah dijadikan sebagai basis pergerakan menentang agresi Belanda.
Tugu itu hanyalah simbol perjuangan masyarakat semata, sekarang ini adalah sebesar apa makna tugu itu dipahami dan dihargai oleh masyarakat. Apalagi pada peringatan hari pahlawan ke 68 sejauh mana masyarakat tahu dan paham perjuangan para pahlawan tersebut.
Memang tugu merupakan simbol perjuangan ,tetapi keberadaannya sekarang ini hanya sebatas simbol belaka,tidak ada perhatian khusus diberikan kepada tugu itu. Sebut saja tugu pitih kambang ini tugu, yang seyogianya memberikan makna bagi pergerakan kemerdekaan tersebut kini tampak tidak terurus.
Disela sela keramik lantainya, rerumputan tumbuh dengan subur. Keramik yang semula berwarna merah hati itu, kini justeru terlihat hijau dan kehitaman. Hanya masyarakat sekitar saja yang hanya rutin membersihkan tugu tersebut, itupun dilakukan ketika melakukan gotongroyong bersama.
Begitu juga tugu Batas Reville yang terletak di Kenagarian Siguntur Kecamatan Koto XI Tarusan,tugu itu dibiarkan saja berdiri membisu di tengah tingginya hilalang dan rumput liar.
Padahal tugu itu terletak di pinggiran jalan Padang-Painan.tetapi para pengendara yang melintasi jalan itu tidak tahu kalau disitu telah berdiri sebuah tugu yang menjadi bagian sejarah Indonesia di masa dahulu.
Tugu perlu dijaga, tugu penuh makna itu perlu dipertahankan dari kerusakan. Baik kerusakan dari tangan yang ingin menjahili, atau kerusakan akibat proses alam dan cuaca.Sebab “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya”.
Ketua DPRD Kabupaten Pessel Mardinas N Syair menilai peringatan hari pahlawan diharapkan menjadi momentum pembangkit semangat nasionalisme dan nilai nilai kejuangan diri kita selaku anak bangsa.
“Sehingga cita cita kemerdekaan yang tumbuh dalam setiap jiwa dan semangat para pahlawan kita dapat kita wujudkan secara bersama-sama apalagi dalam peringatan hari pahlawan diharapkan sebagai bentuk bagi kita dalam menghargai dan mengenang para pahlawannya,” ujarnya
Sementara, kemarin peringatan hari pahlawan yang dipusatkan di lapangan Bola Kaki Gor H. Ilias Yakub kemarin, Minggu (10/11) dan berlangsung hikmat.
Yang dihadiri Kapolres Pessel AKBP Toto Fajar Prasetyo sebagai ispektur Upacara, Bupati Pessel yang diwakili Sekda Erizon, Dandim Letkol Imanuel Pasaribu, Kepala SKPD, kantor,TNI, Polisi, Pol PP, Dishub, Dinas Kesehatan, Damkar dan pelajar.(*)
Sumber













0 komentar:
Posting Komentar