Flash News
Mail Instagram Pinterest RSS
Mega Menu

Jembatan Gantung Putus Tebing Sungai Terban, Pemukiman Terancam

Painan,Padek—Bukan saja jembatan yang putus, tapi juga tebing sungai yang terban, kondisi ini dialami masyarakat Kampung Medan Baik Nagari Kambang Induk Kecamatan Lengayang Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel). 

Kondisi ini jelas  membuat masyarakat di kampung itu mengeluh. Sebab dua bencana itu bukan saja  memutuskan akses masyarakat antara dua nagari yakni Nagari Kambang Induk dengan Nagari Kam­bang Utara. Tapi enam unit rumah warga juga terancam terban masuk sungai batang Lengayang.

Ajo Gindo 55, warga Kam­pung Medan Baik Nagari Kam­bang Induk Kecamatan Lenga­yang mengatakan kepada Pa­dang Ekspres kemarin (6/11) bahwa saat ini warga dua na­gari, yakni Kambang Induk dan Kambang Utara, bukan saja terisolasi akibat putusnya jem­batan gantung sepanjang 60 meter itu. Tapi enam warga pemilik rumah yang berdiri di sekitar pinggir tebing sungai batang lengayang juga cemas.

“Jembatan gantung yang telah putus saat ini, memang rusaknya sejak banjir bandang bulan November tahun 2011 lalu. Saat itu kondisinya me­mang masih oleh. Karena be­lum putus, sehingga masih bisa dilewati warga,” jelasnya.

Walau sudah hampir me­ma­suki masa dua tahun, tapi pemerintah belum juga mela­kukan perbaikan, baik ter­hadap jembatan yang rusak, maupun pengamanan tebing sungai.

“Karena kondisi yang cu­kup labil akibat belum juga diperbaiki itu, sehingga hujan deras yang terjadi Minggu (3/11), membuat jembatan gan­tung yang oleng ini betul-betul menjadi putus. Kejadian ini, bersamaan pula dengan ter­bannya tebing sungai. Sehingga saat ini jarak enam unit rumah warga di lokasi ini, tidak lagi lebih dari 5 meter. Bahkan satu unit rumah, pondasinya juga ada yang sudah menggantung dan nyaris terban ke dalam sungai,” katanya.

Kondisi itu memang sangat dikeluhkan Siet 40, pemilik rumah yang juga menjadi tem­pat usahanya sebagai pedagang alat-alat bangunan, ketika ditanya Padang Ekspres (6/11) saat berkunjung kemarin.

Dijelaskanya bahwa rumah yang juga menjadi tempat usahanya menjual alat-alat bangunan, saat ini sudah nyaris terban ke dalam sungai batang Lengayang. padahal sebelum bencana banjir bandang terjadi daerah itu, jarak rumahnya dengan sungai masih sekitar 20 meter.

“Saban hari setiap air su­ngai meluap akibat hujan de­ras, tebing sungai selalu terban secara berangsur. Terakhir pada hari Minggu (3/11) yang saat itu memang terjadi hujan yang cukup deras. Karena air sungai meluap, sehingga tebing sungai yang kondisinya sudah labil ini menjadi terban. De­mikian juga dengan jembatan gantung yang berjarak sekitar 30 meter dari rumah saya ini. Sebab jembatan yang sudah oleng ini, betul-betul menjadi putus,” ungkapnya.

Dikatakan Siet bahwa yang cemas saat bukan saja dia dan keluarganya, tapi juga lima orang warga lainya yang sama-sama memiliki rumah disekitar lokasi itu.

“Selain rumah saya, yang terancam terban masuk sungai juga lima unit bangunan warga lainya. Sebab rata-rata jaraknya tidak lebih dari 5 meter lagi dari tebing sungai. Kondisi yang juga cukup mencemaskan ada­lah pada ujung ruas jalan jem­batan gantung itu. Karena jalan utama yang menghubungkan Nagari Kambang Induk dan Nagari kambang Timur juga terancam putus. Saat ini saja jarak badan jalan dengan te­bing sungai  tinggal lagi sekitar 4 meter, padahal dulunya men­capai 30 meter. Dikuatirkan bila hujan deras kembali ter­jadi, yang akan terban bukan saja rumah saya dan lima unit lainya, tapi juga ruas jalan yang menghubungkan dua nagari ini,” terangnya.

Wali Nagari Kambang In­duk Kecamatan lengayang, Edison ketika dihubungi Pa­dang Ekspres kemarin (6/11) mengakui bahwa saat ini enam warga yang memiliki rumah di sekitar jembatan gantung yang putus itu, sudah  sangat cemas. Sebab enam unit rumahnya terancam terban masuk sungai.

“Saat ini enam unit rumah itu, tidak lagi lebih dari 5 meeter jaraknya dari tebing sungai. Bahkan satu unitnya,  yang merupakan milik Siet, pondasi bangian belakangnya sudah menggantung di bibir sungai ini,” jelasnya.

Dikatakanya bahwa yang dicemaskan dan dikeluhan warga saat ini bukan saja an­caman terbanya enam unit rumah dan ancaman putusnya ruas jalan utama penghubung dua nagari yang melewati ping­gir sungai itu. Tapi juga keluhan terisolasinya hubungan warga nagarinya dengan nagari te­tangga.

“Selain kecemasan bagi enam warga pemilik rumah yang terancam terban masuk sungai ini, yang ditakutkan warga juga ancaman terbanya jalan utama penghubung dua nagari dengan pusat keca­matan. Sebab ruas jalan untuk menuju nagari Kambang In­duk dengan kambang Timur dari pusat kecamatan, tidak lagi lebih dari 5 meter. Dari itu penganganan darurat sangat diharapkan agar pen­deritaan masyarakat tidak semakin bertambah sebagai mana kelu­han keterisolasian antara war­ga nagari Kam­bang Induk dengan nagari Kambang Utara ini,” harap­nya.

Kepala Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Pes­sel, Yusdi Ali Umar ketika dihubungi kemarin, menga­kui kondisi kerusakan pada tebing sungai batang Lenga­yang di Kampung Medan baik itu su­dah cukup mendesak.

“Agar ancaman kerusakan pemukiman warga dan ruas jalan utama penghubung dua nagari itu bisa diselamatkan. Sehingga pengamanan tebing sungai melalui pembangunan parit miring atau batu grip perlu dilakukan. Sebab bila itu diabaikan, maka pengikisan tebing sungai akan terus ter­jadi. Upaya itu juga akan me­nye­lamatkan jembatan bila kembali dibangun agar tidak kembali rusak atau putus,” katanya.

Ditambahkanya bahwa kon­disi itu sudah dilakukan peninjauannya oleh Bupati Pessel, Nasrul Abit Senin (4/11) sehari setelah luapan batang sungai Lengayang terjadi ber­sama dinas PSDA dan bebe­rapa pejabat lainya. (*)


0 komentar:

Posting Komentar