Flash News
Mail Instagram Pinterest RSS
Mega Menu

Sapi Pasisie Terus Berkurang

Painan, Padek—Populasi sapi potong asli Kabupaten Pesisir Selatan terus berku­rang. Padahal, daerah ini pe­ma­sok daging terbesar bagi daerah lain. Berkurangnya populasi sapi ini disebabkan kalah ber­saing­nya kualitas sapi asal Pessel dengan sapi daerah lainnya.

Untuk pasar Padang, sapi pesisie sangat diminati karena kualitas daging dan harganya lebih murah dari sapi lainnya. Akan tetapi, sapi pesisie kalah bersaing dengan sapi lain di pasar luar Sumbar.Salah se­orang peternak sapi, Asman, 57, warga Simaung Cumateh Duku Kecamatan Koto XI Ta­ru­san ke­pada Padang Ekspres meng­ung­kapkan sapi pesisie masih di­mi­nati pasar karena kualitas daging dan harganya relatif murah. Sebagian besar pasar ternak di Padang men­jual sapi pesisie.

“Namun ketika kita ingin memasarkan sapi Pessel ke da­erah lainnya, seperti Solok, Pa­ya­kum­buh dan kabupaten lai­n­nya, sapi pesisie kurang diminati karena kalah ber­saing,” ujarnya.

Sapi pesisie memiliki tu­buh lebih pendek dari sapi lainnya. Harganya berkisar Rp 9 juta hingga Rp 10 juta. Sapi jenis lainnya, seperti sapi asal  Pa­langki, sapi bali dan si­mental  bisa dihargai hingga Rp 12 juta sampai Rp 20 juta.

Perawatan sapi pesisie ti­dak­lah sulit. Peternak cukup mengandangkan sapi itu dan memberikan makan rumput setiap hari. “Dalam pera­watan­nya, sapi pesisie sangat mudah dan biaya murah. Cukup mem­berikan rumput. Jika jenis lainnya, harus diberikan sagu dan konsentrat,” lanjutnya

Seorang peternak, Tamrin, 60, mengungkapkan, lebih suka memelihara sapi pesisie daripada sapi jenis lain karena biaya murah dan tahan pe­nyakit.

“Kalau kita punya biaya dalam pemeliharaan kita lebih untung memelihara sapi  jenis simental atau Bali dari pada sapi Pessel karena hasil keun­tungan yang didapat lebih besar setiap ekornya peternak bisa meraup keuntung Rp 5 juta hingga Rp 10 Juta kalau sapi pesisie keuntungan cuma Rp 2-3 juta,” ujarnya.

Kaswir, 50, peternak asal Batu Hampar Tarusan, me­nga­takan, bibit sapi pesisie berasal dari Kambang, Airhaji, Inde­rapura. Ternak sapi pesi­sie biasa­nya dilakukan dengan sistem bagi hasil. Beberapa ekor sapi dise­rahkan kepada warga sekitar bulan November, dan dijual menjelang kurban tahun depan.

“Sapi itu diserahkan kepa­da peternak dan hasilnya dari perjualan sapi dikurangi mo­dal awal pembelian sapi. Itulah yang dibagi dua,” ujarnya.

Dia mencontohkan, seekor sapi dibeli seharga Rp 5-6 juta, lalu dipelihara warga dan di­jual seharga Rp 9 juta hingga Rp 10 juta. Keuntungannya Rp 3 juta itu dibagi dua antara pemilik sapi dan pemelihara.

Begitu juga secara kelom­pok. Di Pessel, ada kelompok ta­ni di 12 kecamatan. Namun, se­kitar 35 kelompok tidak aktif.

Kepala Bidang Peternakan pada Dispetaholbunak Pessel, Marzukri mengungkapkan, sejak beberapa tahun lalu telah menyiapkan program insemi­nasi buatan (IB) gratis. Sasa­rannya, 33.000 ekor sapi beti­na produktif milik peternak di 12 kecamatan.

Data Dinas Peternakan Pesisir Selatan, populasi sapi potong 84.000 ekor per tahun. Jumlah peternak 35.000 KK dari total penduduk Pessel 95.000 KK. Populasi sapi ter­ba­nyak di Kecamatan Lenga­yang, yakni 16.000 ekor disu­sul Bayang sebanyak 14.000 ekor. Sementara potensi lahan telantar yang bakal disuburkan untuk lokasi pengembangan sapi terbentang sekitar 18.400 ha di 12 kecamatan.

Sapi pesisie terdiri 60 per­sen sapi lokal dan 40 persen sapi hasil perkawinan silang, dengan produksi daging 6,88 juta kilogram per tahun.
“Kita juga mengimbau pe­ternak sapi agar tidak menjual sapi betina produktif sehubu­ngan berkurangnya populasi sapi pesisie,” serunya. (*)

0 komentar:

Posting Komentar