Painan, Padek—Populasi sapi potong asli Kabupaten Pesisir Selatan terus berkurang. Padahal, daerah ini pemasok daging terbesar bagi daerah lain. Berkurangnya populasi sapi ini disebabkan kalah bersaingnya kualitas sapi asal Pessel dengan sapi daerah lainnya.
Untuk pasar Padang, sapi pesisie sangat diminati karena kualitas daging dan harganya lebih murah dari sapi lainnya. Akan tetapi, sapi pesisie kalah bersaing dengan sapi lain di pasar luar Sumbar.Salah seorang peternak sapi, Asman, 57, warga Simaung Cumateh Duku Kecamatan Koto XI Tarusan kepada Padang Ekspres mengungkapkan sapi pesisie masih diminati pasar karena kualitas daging dan harganya relatif murah. Sebagian besar pasar ternak di Padang menjual sapi pesisie.
“Namun ketika kita ingin memasarkan sapi Pessel ke daerah lainnya, seperti Solok, Payakumbuh dan kabupaten lainnya, sapi pesisie kurang diminati karena kalah bersaing,” ujarnya.
Sapi pesisie memiliki tubuh lebih pendek dari sapi lainnya. Harganya berkisar Rp 9 juta hingga Rp 10 juta. Sapi jenis lainnya, seperti sapi asal Palangki, sapi bali dan simental bisa dihargai hingga Rp 12 juta sampai Rp 20 juta.
Perawatan sapi pesisie tidaklah sulit. Peternak cukup mengandangkan sapi itu dan memberikan makan rumput setiap hari. “Dalam perawatannya, sapi pesisie sangat mudah dan biaya murah. Cukup memberikan rumput. Jika jenis lainnya, harus diberikan sagu dan konsentrat,” lanjutnya
Seorang peternak, Tamrin, 60, mengungkapkan, lebih suka memelihara sapi pesisie daripada sapi jenis lain karena biaya murah dan tahan penyakit.
“Kalau kita punya biaya dalam pemeliharaan kita lebih untung memelihara sapi jenis simental atau Bali dari pada sapi Pessel karena hasil keuntungan yang didapat lebih besar setiap ekornya peternak bisa meraup keuntung Rp 5 juta hingga Rp 10 Juta kalau sapi pesisie keuntungan cuma Rp 2-3 juta,” ujarnya.
Kaswir, 50, peternak asal Batu Hampar Tarusan, mengatakan, bibit sapi pesisie berasal dari Kambang, Airhaji, Inderapura. Ternak sapi pesisie biasanya dilakukan dengan sistem bagi hasil. Beberapa ekor sapi diserahkan kepada warga sekitar bulan November, dan dijual menjelang kurban tahun depan.
“Sapi itu diserahkan kepada peternak dan hasilnya dari perjualan sapi dikurangi modal awal pembelian sapi. Itulah yang dibagi dua,” ujarnya.
Dia mencontohkan, seekor sapi dibeli seharga Rp 5-6 juta, lalu dipelihara warga dan dijual seharga Rp 9 juta hingga Rp 10 juta. Keuntungannya Rp 3 juta itu dibagi dua antara pemilik sapi dan pemelihara.
Begitu juga secara kelompok. Di Pessel, ada kelompok tani di 12 kecamatan. Namun, sekitar 35 kelompok tidak aktif.
Kepala Bidang Peternakan pada Dispetaholbunak Pessel, Marzukri mengungkapkan, sejak beberapa tahun lalu telah menyiapkan program inseminasi buatan (IB) gratis. Sasarannya, 33.000 ekor sapi betina produktif milik peternak di 12 kecamatan.
Data Dinas Peternakan Pesisir Selatan, populasi sapi potong 84.000 ekor per tahun. Jumlah peternak 35.000 KK dari total penduduk Pessel 95.000 KK. Populasi sapi terbanyak di Kecamatan Lengayang, yakni 16.000 ekor disusul Bayang sebanyak 14.000 ekor. Sementara potensi lahan telantar yang bakal disuburkan untuk lokasi pengembangan sapi terbentang sekitar 18.400 ha di 12 kecamatan.
Sapi pesisie terdiri 60 persen sapi lokal dan 40 persen sapi hasil perkawinan silang, dengan produksi daging 6,88 juta kilogram per tahun.
“Kita juga mengimbau peternak sapi agar tidak menjual sapi betina produktif sehubungan berkurangnya populasi sapi pesisie,” serunya. (*)













0 komentar:
Posting Komentar